Laman

Sabtu, 19 Juni 2010

Mendeteksi Karsinogenik

Mendeteksi Karsinogenik
Oleh
M. Denny Fardhan
Mingguan MIMBAR KARYA, Minggu IV Juni 1996
Istilah Karsinogenik semakin sering kita dengar, dan biasanya ini dihubungkan dengan berbagai macam zat kimia. Zat-zat kimia tertentu memang dapat menyebabkan atau merangsang timbulnya kanker, tapi jangan gegabah menganggap semua zat kimia dapat menyebabkan kanker.
Memang benar, bahwa semua zat kimia dapat menjadi racun bagi tubuh bila jumlahnya terlalu banyak. Namun apabila zat kimia ini dalam jumlah yang tepat dan dalam komposisi yang besar, maka zat kimia akan merupakan bahan yang sangat berguna bagi tubuh. Jadi tidak semua zat kimia dapat dianggap sebagai zat Karsionogenik. Hanya zat-zat kimia tertentu saja yang memang terbukti merupakan penyebab kanker.
Zat Karsinogenik adalah zat yang menyebabkan timbulnya tumor, yaitu pertumbuhan jaringan tubuh yang tidak normal. Ini mungkin tidak berbahaya, tetapi dapat juga bersifat sangat ganas. Tumor yang tidak berbahaya ditunjukkan dengan pertumbuhannya yang lambat, sedangkan tumor yang ganas sering juga disebut dengan kanker. Dia dapat tumbuh dengan cepat atau lambat dan umumnya pertumbuhannya adalah irreversible (tak membalik). Kanker menyerang dan menghancurkan jaringan sekelilingnya.
Apakah yang menyebabkan kanker? Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan bahwa, 80-90% faktor genetik (keturunan) atau juga virus. Sedang yang termasuk dalam faktor lingkungan 10% (radiasi matahari, radioaktif dan faktor lingkungan) yang lebih dari 10-15% disebabkan karena polusi lingkungan.
Di masyarakat sekarang ini, terdapat kekhawatiran tentang beberapa zat kimia yang diduga dapat menyebabkan kanker. Sekitar 30 jenis senyawa kimia telah diketahui menyebabkan kanker pada manusia, sekitar 300 jenis senyawa kimia dapat menyebabkan kanker pada binatang, dan perlu dicatat bahwa senyawa-senyawa tersebut sering digunakan sehari-hari.
Meski biasanya zat yang dari alam lebih aman, namun tidak semua karsinogen adalah senyawa sintetis, banyak juga yang berasal dari alam, tetapi dapat menjadi penyebab kanker juga. Misalnva safrole dalam sassafran dan aflatoksin adalah zat yang diproduksi oleh kapang (sejenis mikroba) dalam makanan, mereka merupakan zat-zat alami, tetapi karsinogenik.
Kebanyakan yang lebih dikenal sebagai karsinogen adalah polisiklik aromatis hidrocarbon dan yang paling dikenal adalah 3,4 benzenpyrene. Hidrokarbon karsinogenik terbentuk karena pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan organik. Ini banyak ditemukan dalam rokok, asap mobil, kopi dsb. Sehingga bahan-bahan makanan ini hampir dapat dipastikan merupakan penyebab kanker. Namun begitu tidak semua polosiklik aromatis  hidrokarbon Buadalah karsinogen, tergantung dari bentuk dan ukuran molekulnya.
Kelas senyawa lain yang penting sebagai karsinogen adalah amina-amina aromatis, 2 diantaranya yang terpenting yaitu B-naphtylamine dan benzidine. Senyawa-senyawa ini antara lain sering digunakan dalam industri zat warna. Zat-zat ini menyebabkan kanker yang parah di antara para pekerja yang sering kontak dan menghirupnya dalam waktu yang lama.
Kebanyakan zat warna dari jenis amino azo diketahui merupakan karsinogen, tetapi ternyata zat-zat warna ini masih sangat sering digunakan oleh masyarakat kita untuk zat pewarna makanan dan juga keperluan sehari-hari yang lain. Padahal zat warna ini lebih tepat digunakan sebagai zat warna tekstil.
Kelompok lain di luar senyawa aromatis adalah zat kimia alifatis, antara lain dimeril nitosamin, vinil klorida (digunakan dalam pipa pralon PVC, poly vinil chlorida), dan etyl karbamat. Ada juga yang dari heterosiklik yaitu yang mengandung oksigen dan nitrogen, misalnya epoksida dan turunannya dari ethilenimene, dan yang lain adalah ester yang disebut lactones.
Bagaimana zat-zat kimia tersebut dapat menyebabkan kanker belum dapat diketahui dengan pasti, karena mekanisme dan aksinya sangat bervariasi, bergantung kepada struktur kimianya. Beberapa zat kimia memodifikasi DNA, sehingga mengacaukan replikasi sel, atau juga sintesis proteinnya. Sebagai contoh aflatoksin-B akan mengikat residu-residu guanin dalam DNA sehingga akan terjadi kekacauan dalam mekanisme kerja DNA. Namun sekali lagi, bagaimana langkah ini dapat menyebabkan kanker masih belum diketahui dengan pasti.
MENDETEKSI KARSINOGEN
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita dapat mengetahui suatu zat kimia adalah Karsinogen bagi manusia. Hal ini penting karena, sampai sekarang ini masih terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan sesuatu zat itu karsinogen atau tidak.
Perbedaan pendapat ini dapat dimaklumi karena untuk membuktikan hal tersebut, tentu sangat sulit, karena kita tidak dapat mencobakan langsung pada manusia. Siapa yang bersedia menjadi 'manusia percobaan’, dan kalau pun ada yang bersedia ini merupakan pelanggaran kode etik dalam penelitian. Namun bukan berarti bahwa tidak ada cara pendekatannya. Cara yang sudah lazim dikenal untuk mendeteksi senyawa karsinogenik ada tiga, yaitu:
1. Tes Binatang (Animal Test)
Zat kimia yang diduga penyebab kanker dicobakan pada binatang. Tes dapat dilakukan dengan menggunakan dosis rendah pada jutaan tikus, dan karenanya biayanya sangat mahal. Sehingga biasanya tes menggunakan dosis yang lebih besar, dan dilakukan hanya pada 30 tikus atau lebih, dan sejumlah yang sama dari tikus sebagai grup kontrol/pembanding.
Kedua kelompok ini mendapat diet dan lingkungan yang sama, tetapi hanya pada kelompok yang diuji mendapat tambahan dosis zat kimia yang diuji. Dengan adanya hewan kontrol, maka dapat diambil kesimpulan dengan membandingkan kedua kelompok perlakuan tersebut. Bila kejadian kanker pada hewan eksperimen jauh lebih besar daripada hewan kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa senyawa yang diuji adalah karsinogen.
Meskipun begitu hasil ini tidak dapat memastikan bahayanya bagi manusia, karena dosisnya tidak dapat dibandingkan langsung dengan manusia. Namun sebagaimana berbedanya metabolisme antara manusia dan binatang atau sebaliknya, ada hubungan yang baik antara tes binatang dengan hasil pada manusia.
2. Dengan Mempelajari Populasi Epidemiologis.
Cara yang paling baik untuk pembuktian bahwa suatu substansi menyebabkan kanker pada manusia dapat diperoleh dari mempelajari epidemi biologisnya. Suatu populasi yang mempunyai rata-rata penderita kanker di atas normal, dipelajari faktor-faktor yang sama dari populasi tersebut sebagai latar belakangnya. Ini adalah salah satu cara mempelajari yang mudah, untuk mencari penyebab dari suatu wabah pada suatu populasi.
Dengan cara ini pula, dapat dibuktikan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru, vinil klorida menyebabkan kanker hati, dan juga asbes menyebabkan pada saluran pernafasan. Studi ini memerlukan penguasaan analisa matematis yang terampil. Namun sering dengan cara ini tidak ditemukan faktor yang tepat dari penyebab kanker itu sendiri, karena banyaknya kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat mempengaruhi ketepatan dalam penentuan.
3. Dengan Mempelajari Mutagenesis Pada Bakteri
Cara ini dikembangkan oleh Bruce N Ames dari Berkley, tes ini menggunakan varian dari bakteri Salmonella thiphimurium untuk menguji mutasinva (perubahan dalam gen). Percobaan ini sederhana dan relatif tidak mahal. Namun ketepatannya kurang, bila dibandingkan dengan cara di atas.
Dari beberapa zat kimia yang menimbulkan mutagen (perubahan dalam gen), ternyata karsinogen. Tetapi perlu dicatat bahwa 90% dari zat yang Carsinogen akan menimbulkan mutagenesis.
Dan yang penting lagi adalah, zat kimia itu sendiri mungkin tidak karsinogenik, tetapi setelah metabolisme bisa saja menjadi karsinogen, maka untuk mengatasi hal ini digunakan tes menggunakan tiruan metabolisme dari urin dan feses.
Untuk kasus-kasus tertentu cara Ames ini dapat digunakan sebagai pendahuluan, dan bila diperlukan dilanjutkan dengan tes hewan dan studi epidemiologis.
Jelaslah sekarang bahwa ketakutan terhadap semua zat-zat kimia menjadi penyebab kanker tidaklah beralasan namun untuk zat-zat yang telah terbukti dapat menimbulkan kanker yang mungkin bukan hanya pada diri kita, tapi juga pada keturunan kita, perlu kita hindari. (MK/AT).

Kabar Gembira Bagi Pengidap Kanker

Keajaiban Baru Pengobatan Kanker
Mingguan MIMBAR KARYA, Minggu I Juli 1996

Ini cerita terbaru dan menggembirakan bagi pengidap penyakit kanker. Biasanya orang yang kena kanker, harapan untuk penyembuhannya sangat tipis, karena kanker termasuk jenis penyakit ganas yang tak mengenal ampun kepada penderitanya.
Enam tahun lalu, Melvin A. Francis dinyatakan dokter menderita kanker kerongkongan. Ini adalah kanker yang diderita 12 ribu rakyat. Amerika setiap tahun. Penyakit tersebut telah membuat 95 persen penderitanya mati dan lima persen kehilangan suara.
Tak heran jika direktur perusahaan manufaktur ini mencari dokter terbaik, Dr. Bergein E Overholt, untuk mengobati penyakitnya. Tetapi, apa daya? Menurut Bergein, satu-satunya jalan hanyalah membuang sebagian kerongkongan dengan operasi. Dengan begitu kankernya dijamin sembuh. Namun, Melvin bakal tak pernah makan secara normal lagi.
Untungnya, Bergein memberi alternatif lain. Metode penyembuhan alternatif yang masih dalam percobaan. Namanya photo-dynamic therapy (PDT). Jadilah Melvin kelinci percobaan pertama.
Mula-mula, Bergein menyuntik Melvin dengan fotofrin, yaitu obat fotosensitif yang akan terakumulasi dalam sel-sel kanker. Tiga hari kemudian, dokter membuang tumor itu menggunakan sinar laser merah bertenaga rendah selama 30 menit. Hasilnya, sel kanker hilang, jaringan sekitar kanker tidak ikut terbakar.
Yang mengejutkan, sore bari setelah operasi, Melvin diperbolehkan pulang. Kini Melvin dinyatakan babas kanker. "Bahkan, saya tak berpantang makan apa pun. Termasuk lombok," ujamya seperti ditulis Business Week.
Keajaiban ini tak hanya milik Melvin. Tetapi juga dialami penderita uji coba dari Jepang, Eropa dan Amerika. Pakar kanker pun menganggap PDT sebagai terapi kanker masa depan. Bahkan, Desember kemarin, FDA (POMnya Amerika) menyetujui penggunaan fotofrin dalam pengobatan kanker kerongkongan tingkat lanjut.
Sedangkan Depkes Jepang, April lalu, mengesahkan penggunaan fotofrin sebagai terapi awal kanker paru-paru, kerongkongan, perut, dan mulut rahim. Tindakan kedua negara ini kemudian diikuti Perancis, Kanada dan Belanda.
Sebetulnya, PDT lebih dari terapi kanker. Karena obat foto sensitif ini mampu berakumulasi di sel-sel yang pertumbuhannya ekstra cepat, bukan hanya di sel kanker. Para peneliti menduga, PDT dapat juga digunakan mulai pada psoriosis hingga penyakit degeneratif pada mata.
Meski kehebatannya sudah terbukti nyata, PDT masih diragukan banyak pihak. Memang PDT menunjukkan banyak keunggulan misalnya memperpendek waktu perawatan di RS. Kalau penderita kanker paru biasa butuh 5 - 10 hari dirawat di RS setelah operasi, dengan PDT cukup sehari.
PDT nyaris tanpa efek samping kecuali membuat penderita lebih peka terhadap sinar matahari. Namun ini dapat diatasi dengan menyuruh mereka menghindari matahari empat sampai enam minggu. Tidak seperti pengobatan kanker dengan kemoterapi atau radiasi. Kedua terapi ini membuat penderitanya merasa mual, muntah, hingga mengalami gangguan kekebalan badan. Namun, PDT tak mampu membuang kanker sampai ke akarnya. Terutama yang sudah bermetastase ke seluruh tubuh. Apalagi, fotofrin memiliki keterbatasan, tak mampu menyebar ke bagian tubuh yang dalam.
Kemampuan PDT diakui hanya untuk terapi kanker pada tahap awal. Kecuali pada kanker kerongkongan. Namun, menurut Dr. Charles J. Lightdale, direktur klinik gastroenterologi di Pusat pengobatan Presbyterian Columbia, PDT dapat menghilangkan kanker kerongkongan untuk sementara waktu, sebelum kambuh kembali. "Setidaknya membuat penderita kanker senang di saat tertentu," ujarnya ringan.
Sedangkan di klinik kanker Jepang, PDT mampu membuang kanker paru stadium awal hingga 90 persen. Meski hanya 80 persen untuk kanker kerongkongan, perut, dan mulut rahim.
Sementara itu, pengobatan PDT memberikan hasil yang berbeda di klinik kanker Mayo, Jacksonville. Sekitar 43 persen penderita kanker paru pada stadium awal, berpeluang babas kanker selama 5 tahun seteiah diobati dengan PDT.
Selain kanker kerongkongan, paru, perut, dan mulut rahim, PDT diharapkan dapat mengobati kanker mulut, lambung, kerongkongan, lidah. Juga kanker kulit, prostat, dan otak.
Bahkan kini, para ahli berusaha menggunakan PDT untuk mengobatan penyakit mata yang dikenal dengan AMD (age related macular degeneration).
Perlu diketahui AMD menyebabkan kebutaan pada manula di atas umur 60 tahun. Lebih dari 100 ribu manusia AS terkena penyakit ini dan hanya 20 persen yang bisa diselamatkan dari kebutaan. (Mdk).

Taburkan Jamur Sayang

Mingguan MIMBAR KARYA, Minggu V Juni 1996

Seorang biolog dari Purwokerto menemukan jamur untuk membasmi nyamuk demam berdarah. Jamur L. gigantium ini aman buat manusia, bisa disebarkan seperti ragi.
Siasat perang menghancurkan pesawat tempur musuh selagi mereka belum terbang bisa dipakai untuk membasmi nyamuk demam berdarah. Caranya, bukan dengan menyemprotnya selagi tidur malam hari, karena nyamuk jenis ini beroperasi siang bolong. Tapi membinasakan nyamuk itu selagi belum mampu terbang.
Cara ini pula yang dipakai Prof Rubijanto Misman dari Universitas Jenderal Soedirman., Purwokerto, Jawa Tengah. Ihwal pembasmian nyamuk demam berdarah itu diungkapkannya dalam pidato ilmiah untuk mengukuhkannya sebagai guru besar universitas tempatnya bekerja akhir bulan lalu. Pada kesempatan itu, Rubijanto menawarkan cara baru untuk memerangi demam berdarah dengan teknik biologis.
Rubijanto menjagokan jamur Lagenidium gigantium alias L. gitantium sebagai lawan nyamuk demam berdarah Aedes aegypti. Jamur ini, dalam penelitian Rubijanto, mampu menyergap nyamuk penyebar virus demam berdarah itu langsung di habitat pembiakannya, di tempat-tempat air bersih yang menggenang. "Larva Aedes aegypti ternyata menjadi makanan empuk bagi jamur L. gigantium," ujar dosen Universitas Soedirman itu.
Kesempatan menjajal keampuhan jamur L. gigantium itu diperoleh Rubijanto ketika dia mendapat beasiswa belajar di College of Biological Science, di Ohio State University di Columbus, AS, tahun 1988. Bersama seorang kawan sefakultasnya di Universitas Soedirman, Rubijanto meneliti pola interaksi antara jamur L. gigantium dan nyamuk Aedes aegypti dalam sebuah habitat perairan.
Ternyata, menurut Rubijanto, nyamuk yang berbahaya di darat itu tak berkutik menghadapi serangan jamur mikro yang tak terlihat oleh mata telanjang itu. Anak-anak nyamuk (larva) Aedes, terutama pada stadium 3 dan 4 yang hampir jadi nyamuk, menjadi sasaran kolom jamur itu. Lemak sterol yang banyak terdapat pada larva ini merupakan santapan yang disukai jamur itu. "Dalam tempo 72 jam setelah terkena jamur, tubuh larva itu hancur," kata Rubijanto.
Dalam pembiakannya, sebagaimana laiknya keluarga jamur, gigantium menempuh dua cara: secara seksual membentuk oospora dan secara aseksual membentuk zoospora. "Zoospora itulah yang menjadi sumber infeksi bagi nyamuk Aedes aegypti," kata Rubijanto.
Zoospora jamur ini punya organ yang disebut flagel, yang bentuknya mirip sepasang kaki. Dengan flagel itu, benih jamur itu berenang mencari inang, seperti benalu mencari pohon untuk menumpang hidup. Bila zoospora ini mendapatkan inang larva nyamuk Aedes, dia akan cepat berkembang, membentuk sulur hifa yang kemudian bercabang-cabang menjadi jalinan benang mirip faring yang disebut miselium.
Pada tahap miselium ini jamur siap melakukan proses pembiakan, membentuk zoospora dan oospora. Perkembangan jamur ini sangat cepat, hampir seiring dengan pertumbuhan larva. Dalam penelitiannya di Columbus, Rubijanto menjumpai 178-250 ribu sel zoospora pada larva korban. Bibit jamur L. gigantium itu dibawa Rubijanto ke Purwokerto sebagai oleh-oleh. Penelitian dilanjutkan. Dari dua "varietas" yang dicobanya, dari India dan Amerika, tak semua beradaptasi bagus untuk lingkungan tropic.
Jamur India terbukti lebih kuat. "Dia bisa bertahan di perairan yang tercemar, berkadar garam tinggi, dan dalam segala cuaca," tutor biolog berusia 48 tahun ini.
Jamur ini rupanya tak cuma efektif memerangi nyamuk demam berdarah. Larva nyamuk Anopheles pembawa penyakit malaria dan Culex penebar cacing benang pun disantapnya habis. Di habitat baru Indonesia, kehadiran jamur L. gigantium ini, menurut Rubijanto, tak berbahaya. Selain larva nyamuk, hewan air lainnya seperti ikan, kodok, tak diusiknya. "Jamur ini sangat selektif mencari mangsa," tambah Rubijanto.
Maka, biolog Purwokerto ini mengusulkan agar jamur ini digunakan untuk penanggulangan demam berdarah. Dr. Susamto, ahli virus dari UGM, Yogya, mendukungnya. "Karena tak memberikan efek residu insektisida," ujarnya. Pemakaian bahan kimia yang berulang seperti penaburan serbuk abate seperti yang selama ini dipakai untuk membasmi nyamuk demam berdarah, selain menimbulkan pencemaran, kata Susamto juga mengundang perkara lain. "Akan muncul biotipe baru yang kebal," tambahnya.
Di samping itu, penggunaan jamur itu relatif permanen. Sebab, bila populasi nyamuk menyusut, jamur ini menjalani masa dormasi. Zoospora membuat dinding di sekeliling tubuhnya, untuk perlindungan, dan mereka tak melakukan aktivitas metabolisms. Masa dormasi itu dapat bertahun-tahun. Selama masa paceklik, sel-sel dorman itu tetap tinggal di perairan, dan baru aktif lagi bila datang larva nyamuk.
Untuk penyebaran yang lebih luas, Rubijanto telah pula menemukan caranya. Zoospora yang dorman itu diisolasi sebagai bibit, mirip ragi untuk oncom atau tempe. Bila sewaktu-waktu diperlukan, "ragi" itu bisa dibiakkan dalam larutan yang berisi kuning telur. Beberapa saat di larutan itu,
bibit dorman akan aktif kembali, sampai populasinya 30 ribu sel per cc. Sesudah itu, tinggal disebar di kolom-kolom atau di tempat air tergenang. Kalau jamur ini diprodusi massal, mungkin akan muncul iklan : "Taburkan jamur, Sayang." (TP)

Pembangkit Energi Pompa Air Pedesaan

Harian KOMPAS, Minggu, 1 Maret 1992

INDONESIA dengan jumlah penduduk sekitar 185 juta jiwa hampir 80 persen bertempat tinggal di pedesaan, yang sebagian besar belum, terjangkau oleh fasilitas air bersih (baca: air minum). Sebagai salah satu kebutuhan primer kehidupan umat manusia, keterbatasan sarana air bersih sering merupakan sumber malapetaka berjangkitnya penyakit diare, muntah-muntah, gangguan kulit, atau penyakit lainnya. Kejadian seperti ini kerapkali dijumpai di pedesaan pada musim kemarau, dan tak jarang merenggut korban jiwa.
Secara mendasar air bisa diperoleh dari tiga sumber, berupa air hujan, air tanah dan air permukaan.
Di pedesaan yang mengandalkan air hujan sebagai sumber air minum sering dijumpai penduduk melakukan penampungan air cucuran atap. Di daerah yang tergantung dari sumber air tanah, pengadaan air dilakukan dengan alat pengangkat untuk memindahkan air ke permukaan. Cara ini sangat dipengaruhi oleh kedalaman sumber air. Di tempat yang kondisi sumber airnya tidak mendukung masih banyak dijumpai kebutuhan air masyarakat diperoleh dari air permukaan, di mana kualitas air sangat diragukan memenuhi persyaratan kesehatan. Pada umumnya air permukaan sudah sangat tercemar oleh kotoran atau limbah, baik dalam bentuk limbah rumah tangga, industri, atau pertanian.
Bertitik tolak pada keberadaan sumber air tersebut pengadaan air bersih untuk kebutuhan air minum pada masyarakat di pedesaan, pilihan yang cocok adalah memanfaatkan sumber air tanah, karena dari segi kebersihan
ataupun kontinuitas, sumber air tersebut bisa diandalkan. Problema yang dihadapi di sini adalah harus tersedianya alat pengangkat berupa pompa air, baik manual maupun yang memakai tenaga listrik.
Pompa manual mempunyai kendala pada kedalaman pemompaan sangat terbatas. Alternatif lain-lain menggunakan pompa tenaga listrik. Tetapi menurut data yang diterbitkan oleh Bakoren '91 jaringan tenaga listrik pada tahun anggaran 1991/1992 baru akan menjangkau 6.290 desa dari sekitar 65.000 desa di Indonesia. Terlihat di sini pemakaian pompa listrik akan sangat terbatas karena jangkauan PLN belum memungkinkan. Di lain pihak kemampuan masyarakat pedesaan untuk mengadakan pembangkit listrik sendiri sangat terbatas. Kenyataan ini memacu para peneliti mencari sumber energi alternatif yang murah dan gampang diperoleh.

Kolektor Tube Ruang Hampa
Teknologi kolektor 10 tahun terakhir ini makin bertambah maju, penelitian dan pengembangannya makin mendapat dukungan oleh lembaga-lembaga penelitian, terutama di negara maju seperti Jerman, Jepang dan Amerika Serikat.
Kolektor tube ruang hampa, salah satu tipe kolektor plat datar yang berfungsi sebagai pengumpul panas matahari.
Dengan memanfaatkan efek perpindahan panas, energi panas matahari yang terkumpul digunakan untuk menguapkan media kerja. Dengan mengekspansikan tenaga uap bertekanan ini ke motor, maka akan dihasilkan tenaga gerak mekanik, yang bisa dimanfaatkan sebagai penggerak pompa air.
Keuntungan yang didapat dari teknologi kolektor tube ruang hampa adalah akan selalu dihasilkan energi panas sebagai sumber energi selama matahari bersinar. Dengan teknologi ini diharapkan lokasi atau daerah yang belum disentuh jaringan listrik PLN dapat memanfaatkan sumber gratis yang diberikan oleh alam yaitu matahari.
Semenjak tahun 1987 Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Sumber Daya dan Energi BPP Teknologi bekerja sama dengan Direktorat Air Bersih PU, P2AT-PU, Bappeda TK I NTB dan TUEV-Rheinland melakukan penelitian pemanfaatan kolektor tube ruang hampa pada penerapan pompa panas tenaga surya (PPTS) di lima lokasi di Pulau Lombok. Masing-masing satu unit dipasang di Desa Jambek, Mangkung Kawo di Lombok Tengah dan di Desa Dusan Baru dan Labuhan Lombok di Lombok Timur.
Pemilihan lokasi tersebut atas dasar data lapangan, bahwa air bersih masih sangat rawan bagi penduduk setempat dan fasilitas listrik masih sangat terbatas. Kondisi daerah sangat kering dan matahari hampir tersedia sepanjang tahun. Menurut data, daerah ini hanya mempunyai musim hujan dua bulan dalam setahun.

Unit terinstalasi
Perangkat keras PPTS yang diinstalasi di Pulau Lombok dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengadaan air bersih daerah pedesaan yang berpenduduk antara. 500-2000 jiwa.
Dengan menggunakan 240 kolektor tube ruang hampa tipe VTR 361, PPTS mampu menghasilkan tenaga keluaran sebesar 1 KW-hidraulik pada radiasi matahari 1000 watt/m2. Jumlah radiasi matahari sangat mempengaruhi kinerja PPTS. Dalam memompa air pada kedalaman air antara 20-40 meter jumlah air yang dipompa bisa mencapai 60.000 liter/hari. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, air bersih yang dihasilkan oleh PPTS didistribusikan kepada penduduk perkampungan terdekat.
Jarak yang dijangkau oleh sistem distribusi gravitasi ini mencapai tiga km dari lokasi unit PPTS terintalasi. Dengan menggunakan bak penampung bervolume delapan m3 pada tiap-tiap kampung, penduduk setempat mengatur pengambilan air melalui keran air yang disediakan. Berdasarkan pengamatan di lapangan penduduk Secara umum mengambil air rata-rata tiga kali sehari, yaitu pagi hari untuk kebutuhan masak, Siang hari untuk mencuci, dan menjelang magrib untuk mandi.
Hasil evaluasi dari tahun 1987-1991 menunjukkan bahwa sistem PPTS yang diuji kaji pada lima lokasi di Pulau Lombok secara teknologi cukup handal dan bisa dikategorikan sebagai teknologi tepat guna dalam arti mampu memecahkan suatu masalah, dalam hal ini pengadaan air bersih. Ditinjau dari segi ekonomis harga awal teknologi PPTS saat ini memang masih mahal. Harga yang ditawarkan oleh industri dalam negeri sekitar Rp. 120.000.000 (seratus dua puluh juta rupiah) per unit, di mana 30 persen dari harga tersebut merupakan harga kolektor tube ruang hampa. Harga satuan ini merupakan harga yang masih berbau penelitian dan pengembangan dari sistem tersebut. Menurut studi yang dilakukan oleh BPP Teknologi harga bisa diturunkan menjadi Rp 90.000.000 (Sembilan puluh juta rupiah) bila permintaan sudah melebihi 100 unit PPTS.
Dengan rata-rata radiasi 4,5 kWh per hari, masing-masing unit PPTS di Pulau Lombok menghasilkan air antara 20.000-60.000 liter air per hari dari kedalaman 20-40 meter. Efisiensi unit PPTS berkisar antara 2,5-3,5 persen.
Mengingat uji kaji PPTS melibatkan beberapa instansi baik pemerintah ataupun swasta, satu hal yang harus diperhatikan adalah koordinasi, sehingga hambatan birokrasi bisa diminimalkan dan tujuan untuk membantu masyarakat pedesaan lebih diberi penekanan.
(N. Suharta, koordinator Proyek Renewable Energy Indonesia — LSDE BPP Teknologi)

Berkas Elektron, Cara Lain Hambarkan Hujan Asam

Oleh
Nukman Luthfi
Harian SUARA KARYA, Senin, 21 Agustus 1989

Pelepasan gas-gas beracun seperti SO2 dan NOx ke atmosfir telah lama diketahui sebagai sumber utama polusi lingkungan. Gas-gas berbahaya ini dilepaskan akibat pembakaran batubara dan minyak di berbagai pembangkit tenaga listrik, pabrik-pabrik besar, jutaan motor atau mobil berbahan bakar minyak, dan pembakaran lain. Namun yang kini mendapat perhatian internasional adalah pelepasan besar-besaran dari cerobong asap instalasi pembangkit listrik dan pabrik-pabrik besar.
Efek perusak gas-gas tersebut dapat diketahui pada area tertentu, karena di daerah tersebut timbul banyak penyakit pernafasan kronis, paru-paru, jantung, dan kerusakan lingkungan. Di Amerika Serikat, diperkirakan polusi udara tersebut menyebabkan 10.000 kematian dan sekitar 25 juta kasus penyakit pernafasan tiap tahun.
Efek jangka panjang ini tak lain karena gas-gas beracun itu berubah menjadi asam sulfat dan asam nitrat akibat perubahan fotokimia di atmosfir, dan jatuh ke bumi sebagai "hujan asam". Hujan asam ini akan mengasamkan sumber-sumber air terbuka seperti danau, merusak hutan dan flora dunia. Beberapa kerusakan hutan akibat hujan asam terjadi di Eropa dan Amerika. Kerusakan terberat terjadi di Jerman Barat, terutama hutan-hutan di daerah North-Rhine/Wesphalia dan Baden Wurttemberg.
Bisa dimengerti kalau Eropa dan Amerika dilanda hujan asam, karena mereka adalah negara-negara industri yang sangat banyak mengkonsumsi minyak dan batubara dalam skala luar biasa. Sebuah pembangkit listrik dengan kapasitas 500 MWe (Mega Watt elektrik), dapat mengkonsumsi 250-300 ton batubara tiap jam. Tergantung kandungan sulfurnya (bervariasi, antara 0,2 % -2 %, bahkan ada yang lebih dari 10%), pelepasan S02 bisa mencapai puluhan ton tiap jam. Di AS Baja, diperkirakan di atas tahun 1990 lebih dari 50 juta ton SO2 dilepaskan ke atmosfir tiap tahunnya akibat kegiatan industri.
Keadaan seperti ini memaksa tiap negara, khususnya negara industri, untuk menetapkan peraturan ketat terhadap pelepasan SO2 dan NOx dari cerobong asap instalasi raksasa. Peraturan-peraturan itu telah diterapkan di berbagai negara seperti Austria, Italia, Belanda, Denmark, Finlandia, Swedia, MEE, AS, bahkan juga India dan Cina. Mereka mewajibkan pemasangan instalasi pembersih atau penyaring SO2 dan NOx pada tiap instalasi raksasa.
Beberapa teknologi sedang dikembangkan di berbagai negara untuk memperkecil atau bahkan menghilangkan polusi udara gas buangan industri tersebut. Salah satu teknologi tersebut adalah pengolahan dengan Berkas Elektron, yang terkenal dengan istilah Electron Beam Processing (EBP). EBP ini sangat potensial untuk memperbaiki kualitas udara dan menghilangkan masalah hujan asam dengan memperkecil pelepasan SO2, dan NOx, sekaligus mengubah gas-gas beracun tersebut menjadi produk sampingan yang mempunyai nilai komersial seperti pupuk.
Teknologi pengolahan ini dapat diandalkan, mudah dipasang, digunakan, dan dikendalikan serta tak berbahaya untuk lingkungan. Tak ada radioaktif yang dihasilkan selama operasi, dan tak ada residu radioaktif setelah operasi.

Konvensional
Teknik-teknik konvensional untuk membersihkan SO2 dan NOx menggunakan perlengkapan yang disebut scrubber, cukup efisien untuk membersihkan gas-gas beracun tersebut. Proses pembersihan SO2 dengan cara kering, semikering dengan kapur menghasilkan produk sampingan yang tak mempunyai nilai komersial sehingga menimbulkan masalah tambahan berupa penyimpanan sampah. Proses basah dengan limestone menghasilkan produk sampingan gipsum yang tak begitu bernilai komersial.
Pembersihan gas NOx dilakukan dengan proses pemisahan, reduksi selektif, dan menggunakan reagen kimia untuk mengubah oksida-oksida nitrogen menjadi nitrogen.
Tak ada satupun metode kimia yang bisa diandalkan yang secara serempak membersihkan SO2 dan NOx sekaligus. Satu-satunya metode yang dianggap berhasil mengatasi SO2 dan NOx sekaligus, adalah metode radiasi dengan berkas elektron.
Radiasi energi tinggi mampu mengionkan dan mengeksitasi molekul-molekul dan atom-atom netral, sehingga atom atau molekul tersebut berubah menjadi radikal-radikal bebas yang reaktif, ion-ion, dan molekul-molekul dalam keadaan tereksitasi (terangsang). Karena mereka itu sangat reaktif, maka mudah bagi mereka untuk saling bereaksi, atau bereaksi dengan oksigen dan air yang ada dalam sistem tersebut, bahkan juga bereaksi dengan bahan-bahan kimia yang sengaja ditambahkan secara tetap ke dalam sistem. Akibatnya, terbentuk basil yang berupa endapan yang mudah dikumpulkan dengan peralatan tertentu.
Proses sederhana inilah yang kemudian mendasari pembersihan gas-gas beracun dengan berkas elektron yang pertama kali dikembangkan oleh "Ebara Manufacturing Corporation" di Jepang. Proses tersebut telah diuji dalam skala laboratorium dari tahun 1970 sampai 1974, dan skala pilot pada tahun 1977-78. Pilot plant dengan kapasitas 10.000 meter kubik Nitrogen tiap jamnya telah dibangun dan diuji pada "Nippon Steel Work" yang bekerjasama dengan Ebara dan Japan "Atomic Energy Research Institute" (JAERI), serta"Takasaki Radiation Chemistry Research Establishment".
Dengan dukungan Departemen Energi AS, Ebara selanjutnya mengembangkan pengolahan dengan berkas elektron untuk membersihkan gas-gas beracun yang dikeluarkan dari cerobong asap instalasi pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan minyak atau batubara sebagai bahan bakar. Inilah yang kemudian terkenal dengan "Proses Ebara" yang didasari irradiasi terhadap gas-gas asap pembakaran batu bara atau bahan bakar hidrokarbon (minyak). Hasilnya, SO2 dan NOx secara serempak dibersihkan dengan cara yang amat efisien, mudah dikontrol, dan tingkat keselamatannya tinggi. Sebagai tambahan, produk sampingan (90% amonium sulfat dan nitrat) mempunyai nilai komersial yang tinggi dan dapat dipakai sebagai pupuk atau penyubur tanah.
Saat ini, sebuah unit pengujian lain telah dipasang di Karlsruhe, Jerman Barat, oleh "Badenwerk". Unit tersebut telah beroperasi sejak tahun 1985. Dari unit inilah kemudian terbukti bahwa pengolahan dengan berkas elektron sangat cocok untuk pembersihan gas-gas asap, sekaligus membuktikan bahwa proses tersebut dapat membersihkan S02 dan NOx sebanyak 90% dari yang dilepaskan gas asap pembakaran batubara dengan kandungan sulfur rendah sampai tinggi. Unit ini juga telah membuktikan bahwa peralatan PEB komersial bisa digunakan dengan aman dan dengan keandalan tinggi dalam lingkungan suatu instalasi pembangkit listrik atau pabrik-pabrik raksasa.

Menguntungkan
Metoda radiasi dengan berkas elektron untuk membersihkan gas-gas beracun secara komersial dan keandalan, mampu bersaing dengan metode-metode konvensional. Bisa dimengerti, karena PEB adalah satu-satunya pengolahan yang mampu membersihkan kedua gas berbahaya itu sekaligus dengan satu peralatan, satu reagen dan satu langkah. Dengan efisiensi pembersihan yang mencapai 90% pasti memenuhi persyaratan pembuangan gas seketat apapun, seperti di Jerman Barat. Lagi pula, proses ini sangat sederhana, tidak perlu memisahkan asap, tak menghasilkan sampah yang harus disimpan, sehingga biaya pengoperasian masih lebih murah dibanding metode konvensional. Apalagi produk sampingan yang berupa amonium sulfat dan nitrat bisa digunakan untuk penyubur tanah.
Untuk pengolahan gas-gas asap seperti ini biasanya digunakan sumber radiasi akselerator berkas elektron dengan kekuatan 300-800 kilo Volt. Untuk aplikasi seperti ini memang tidak diperlukan energi yang lebih tinggi, karena, penetrasi elektron dalam gas sudah cukup tinggi pada energi kurang dari 1000 kilovolt.
Untuk negara-negara yang sangat memerlukan teknologi pembersihan gas-gas beracun dengan efisiensi sangat tinggi karena lingkungan di negara tersebut telah menuju ke tingkat kerusakan yang lebih berat (Jerman Barat misalnya) kehadiran teknologi-teknologi baru yang jauh lebih efisien dibanding metode konvensional memang melegakan. Artinya, untuk sementara waktu, gas-gas beracun tersebut bisa dikendalikan. Meskipun jawaban sebenarnya dari masalah hujan asam tersebut adalah dengan mengurangi penggunaan bahan bakar yang banyak mengandung komponen gas beracun seperti S02 dan NOx.
sebenarnya, masalah hujan asam bukan hanya masalah negara-negara industri saja. Tetapi juga menjadi masalah negara-negara berkembang yang pembangkit listriknya masih tergantung pada penggunaan bahan bakar batubara dan minyak. seperti India dan, RRC, mereka kini pun harus menerapkan peraturan ketat untuk pembuangan gas asap melalui oerobong asap. Indonesia pun kini agaknya mesti memikirkan masalah ini, karena gejala-gejala adanya hujan asam sudah tampak di beberapa daerah.

Diabetes dan Misterinya

Harian SUARA KARYA, 28 Desember 1989

Penyakit ganas yang disebut diabetes (kencing manis) sudah tersebar di dunia dan yang lebih mencemaskan karena penyakit ini berkembang secara diam-diam -- berlangsung lama tanpa ada tanda-tanda -- dengan menimbulkan luka yang tak dapat disembuhkan.
Kongres tentang diabetes, yang diketuai oleh Prof. Lubetski (dari Rumah Sakit Laribosiere, Paris) telah menetapkan penelitian-penelitian yang mencakup bukan saja asal-usul penyakit ini tetapi juga cara pengobatannya.
Tiga ribu ahli penyakit ini dari seluruh dunia ikut ambil bagian pada kongres tingkat tinggi ini dan Prancis-lah yang selalu berada paling depan di bidang ini.
Pada orang sehat, kadar gula dalam darah selalu tetap sekitar satu gram per liter, kadar tersebut dikontrol oleh sekresi suatu hormon: insulin, yang dikeluarkan oleh sel langerhans di dalam pancreas.
Dalam keadaan sakit diabetes, kontrol itu tidak berjalan normal atau tidak bekerja dengan baik dan terjadilah kenaikan kadar gula yang mengalir di dalam darah, yang mengakibatkan endapan atau luka di beberapa organ tubuh (ginjal, pembuluh darah, mata, dsb).
Perlu dibedakan diabetes Tipe I yang dijumpai pada orang-orang muda usia, yang disebut juga diabetes "insulin - dependent" karena penderita harus mendapat injeksi insulin satu atau beberapa kali dalam sehari agar bisa bertahan hidup. Jadi ini merupakan penyakit yang menjadikan kita tidak berdaya tetapi, lebih-lebih, kita telah mempunyai bukti bahwa itu merupakan penyakit keturunan dan menular, oleh karena itu berhubungan dengan genetika: orang - orang yang paling terancam adalah yang termasuk dalam grup DR 3 dan DR 4 dengan sistem HLA.
Oleh karena itu penting untuk sepenuhnya mendeteksi sedini mungkin orang-orang yang masuk dalam golongan itu, terlebih lagi karena hyperglycaemia, hampir tidak diketahui sebelum 90% sel langerhans dirusak, artinya ini sudah sangat terlambat.
Sedang direncanakan, di bidang riset percobaan, penggunaan immunosupresseur, seperti cyclosporine ; riset yang lain: penyuntikan sel-sel yang mengandung gen insulin: Itu untuk masa yang akan datang.
Untuk saat ini hanya injeksi insulin yang dilakukan beberapa kali dalam sehari bisa memberikan pencegahan, metoda - metoda lain (dengan menggunakan rongga hidung, lubang anus bahkan pompa - pompa insulin dsb.) telah terbukti mengecewakan bila digunakan.
Akhirnya ada suatu kemungkinan pencangkokan pankreas tetapi tingkat kematiannya tinggi saat operasi atau percobaan pencangkokan sel-sel Langerhans juga sedang dipelajari.
Diabetes Tipe II, adalah diabetes umur tua; jenis ini tak begitu jadi masalah. Asal genetikanya tampaknya tidak diragukan tetapi mengapa baru terungkap setelah perkembangannya yang sangat tersembunyi selama 15 tahun atau lebih, padahal dalam 45% kasus sudah terjadi komplikasi-komplikasi.
Sejumlah besar penelitian Yang dilakukan di bidang ini membuat ngeri para ahli genetika. Sekresi insulin menjadi benar-benar tak teratur dengan akibat-akibat atau cacat dalam produksi yang bermacam-macam tanpa henti pada waktunya, sedangkan para ilmuwan merasa khawatir terhadap beberapa kemungkinan kelainan-kelainan para penerima "pengaturan" yang dapat membuat berdayaguna pengobatan dengan insulin.
Perlu diperhatikan bahwa setiap penderita merupakan satu kasus khusus baik dalam hal makanan yang harus dia makan maupun dalam pemilihan obat-obatnya.
Secara bulat telah dianjurkan untuk sering kali mengurangi kegemukan dan gerak badan secara teratur. (KBP).

Daging sintetis berkolesterol rendah

Oleh:
Maria Emawati
Harian SURYA, Senin, 13 Juli 1992

DAGING merupakan salah satu jenis bahan makanan hewani yang amat dibutuhkan oleh masyarakat untuk pemenuhan gizi, namun banyak orang terutama yang hidupnya sudah mapan mulai merasa takut terhadap akibat sampingan dari daging lantaran kadar kolesterolnya yang tinggi.
Sehingga mulailah mencari upaya untuk mendapat daging yang 'direkayasa' sedemikian rupa yang kolesterolnya rendah, juga kadar lemak jenuhnya. Ketakutan kebanyakan orang akibat dari kolesterol tinggi adalah risiko terkena penyakit jantung dan kegemukan.
Oleh karena secara alamiah daging tetap mengandung kolesterol, yang jika direkayasa agar kolesterolnya rendah juga kadar lemaknya, akan berpengaruh pada cita rasa, dicarilah upaya lain yakni menciptakan daging sintetis yang berkolesterol rendah tetapi tetap bergizi tinggi.
Daging sintetis ini mengambil bahan baku kedelai yang banyak mengandung protein yang dibuat pertama kali oleh Husden dan Hoer belum lama ini. Daging sintetis itu dibuat sedemikian rupa sehingga mengandung nilai gizi tinggi bahkan melebihi daging tulen.
Dengan pemberian warna dan cita rasa tertentu, daging tiruan ini sulit dibedakan dengan daging asli, dan dapat dibuat/dibentuk menjadi berbagai jenis makanan buatan seperti sosis, daging cacah (cincang), hamburger, rendang, bakso, opor, stik sapi dan lain sebagainya.
Ada banyak keistimewaan yang dimiliki daging sintetis ini di samping nilai kandungan gizi yang tinggi. Keistimewaan itu antara lain lebih homogen dalam arti merata susunannya, tahan lama jika disimpan dapat dibuat bebas sama sekali dari lemak hewani (bebas kolesterol) harganya juga sangat rendah (bisa 30-50 % dari daging asli). Selain itu, tekstur dapat dirasakan oleh selaput lender mulut sebagai butiran atau serabut daging asli. Dengan menambah air, kekerasan dan keempukannya dapat diatur sesuai dengan kehendak konsumen, dapat menyerap sari daging asli (yang biasanya ke luar jika daging dimasak) kalau dicampur daging asli lalu dimasak.

Bentuk
Di pasaran internasional bahan utama daging sitesis ini (yakni protein kedelai) diperjualbelikan dalam bentuk konsentrat (pekatan) protein kedelai dan isolat (terpisah) protein kedelai. Dijual dalam bentuk tepung berwarna putih, tidak berasa dan tidak berbau.
Dari kedua bentuk ini dapat dibuat daging tiruan berwujud kering (texturized vegetable protein (TVP)) atau protein pekat dan spun vegetable protein (SVP) atau protein pintal. Untuk bisa mendapatkan daging basah, TVP maupun SVP harus ditambah dengan 2-3 kali beratnya. Dalam bentuk ini daging tiruan harus ditangani seperti daging segar asli,lantaran mudah rusak. Daging basah ini dapat dimasak seperti daging asli, atau dicampur dengan daging asli (dalam bentuk cacahan) dan digunakan untuk membuat berbagai produk olahan daging.
Pembedaan antara pekatan dan isolat protein kedelai dapat dilakukan dengan mendasarkan pada cara pembuatan dan kandungan proteinnya. Protein kedelai pekatan mengandung 70-89 % protein, dengan pisahan (isolat) 90-95 %. Pekatan dan pisahan protein kedelai merupakan bahan baku yang juga banyak dipakai dan dibutuhkan oleh industry pangan untuk bahan penolong dalam formulasi pembuatan berbagai jenis makanan bayi, roti kue, donat, makroni, sup, sosis, tertola, ekstrim, keratan daging (meat loaves), berbagai minuman dan lain sebagainya. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika bahan baku ini banyak dibutuhkan industry pangan baik di dalam maupun luar negeri.
Pekatan protein kedelai merupakan produk lanjut tepung kedelai. Prinsip pembuatannya ialah membuang setengah dari karbohidratnya dan sebagian mineral sehingga kadar protein per satuan berat bisa meningkat.
Setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk membuat pekatan protein kedelai ini. Pertama, tepung kedelai diekstrak (dicampur dan diaduk) dengan alkohol, kemudian komponen yang tertinggal disaring dan dikeringkan. Kedua, tepung kedelai dicuci dengan larutan asam encer pada pH 4,5 sehingga protein mengendap kemudian endapannya dinetralkan, dicuci dan dikeringkan. Pada proses ketiga, tepung kedelai dikeringkan dan dipanaskan dengan air atau uap panas untuk mengendapkan protein, kemudian komponen-komponen kecilnya diekstrak dengan air.
Sedangkan pisahan (isolat) protein kedelai dibuat dengan cara memisahkan protein kedelai, kemudian dikeringkan. Mula-mula tepung kedelai, dicampur dengan air dengan perbandingan 1:8 kemudian pH diatur sampai 7-9, proteinnya akan larut jika diaduk. Endapan yang tidak larut dipisahkan dengan pemutaran sentrifugal atau penyaiingan. Ekstrak atau bagian yang sudah bebas endapan kemudian diasamkan dengan menambahkan asam klorida encer sampai pH 4,5 agar terjadi penggumpalan dan pengendapan protein yang tadinya larut. Endapan dipisahkan, dinetralkan sampai pH 6-7 dan dikeringkan dengan pengering semprot (spray dryer), hasilnya sering disebut sebagai natrium protein. Dari 100 kg tepung kedelai dapat dihasilkan 60-70 kg konsetrat protein, jika dibuat isolat protein hasilnya hanya 30-40 kg saja.
TVP dan SVP
TVP (Texturized Vegetable Protein) dibuat dari pekatan atau pisahan protein kedelai dan keduanya berbeda dalam mutu dan harganya. TVP yang dibuat dari pisahan protein kedelai mempunyai harga yang lebih mahal karena mutunya lebih baik dibanding dari yang berasal dari pekatan.
Untuk membuat TVP mula-mula pekatan atau pisahan protein kedelai dibuat adonan dengan menggunakan air. Pada adonan ini dapat ditambahkan cita rasa dan pewarnaan makanan yang diizinkan, lemak hewani atau nabati, sehingga berwarna dan berasa daging. Adonan kemudian ditambah dengan natrium bikarbonat sehingga pH menjadi 7,4-7,8. Adonan dipaksa ke luar (dengan tekanan) melalui plat logam yang memiliki ribuan lubang dengan diameter 1 mm sambil dilakukan pemanasan. Di pabrik ini proses berlangsung dalam suatu heat exchange zone (zona pertukaran panas). Melalui lubang ini akan ke luar ribuan serat atau benang protein yang dapat dibentuk menjadi seperti daging, kemudian dikeringkan. Protein jenis ini juga dapat dibentuk sebagai tepung atau butiran dalam bentuk besar ataupun kecil.
Sedangkan SVP (Spun Vegetable Protein) dibuat berdasarkan sifat isolat protein kedelai yang mampu membentuk serat atau benang jika dipintal dalam larutan asam. Mula-mula pisahan protein kedelai dilarutkan dengan larutan basa encer (biasanya natrium bikarbonat) sehingga membentuk cairan kental. Kemudian cairan protein kental ini dipompakan melalui suatu plat platina yang memiliki ribuan lubang kecil. Aliran protein pintal ini dilewatkan dalam larutan asam (asam klorida) encer sehingga menggumpal membentuk benang tipis kenyal, kemudian ditarik dan dipintal. Setelah pemintalan, dilakukan penetralan dan pencucian dengan air yang suhunya dapat diatur untuk menghasilkan tekstur (keempukan) yang diinginkan. Pada proses ini dapat dilakukan penambahan warna, cita rasa dan vitamin yang dikehendaki.
SVP yang sudah jadi itu siap dibuat daging tiruan. Ada dua macam daging tiruan yang dibuat dari bahan jenis ini yaitu daging tiruan macam campuran dan daging tiruan murni. Daging sintetis campuran (meat extender) merupakan campuran antara PVP yang sudah direhidrasi (ditambahkan air 2-3 kali beratnya dan dibiarkan sebentar sampai semua air bias terserap) dengan daging asli. Produk yang dihasilkan akan sulit dibedakan dengan daging asli, jika digunakan PVP sejumlah 40-50% dengan daging asli 50-60%.
PVP kering yang digunakan biasanya tidak diberi rasa. Bumbu dan warna ditambahkan kemudian, yaitu selama proses percampuran, sehingga warna bisa lebih cerah dengan rupa lebih indah disamping tekstur dan nilai gizi yang lebih baik dibanding daging yang asli. Di luar negeri, daging sintetis campuran ini banyak digunakan sebagai bahan pengisi pembuatan makanan olahan daging seperti sosis, meat loves, hamburger dan lain sebagainya. Dengan percampuran ini, harga menjadi lebih murah, sehingga pemasokan daging meluas dan dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan konsumsi daging dan protein.
Daging sintetis murni atau yang lebih sering disebut dengan meat analog merupakan daging sintetis yang sesungguhnya. Ini dibuat dengan rehidrasi PVP atau SVP dengan penambahan air 2-3 kali lipat beratnya. Untuk melezatkan cita rasanya ditambahkan lemak hewani dan bumbu. Jika takut akan kolesterol, lemak hewani juga dapat diganti dengan lemak nabati atau margarine. Pemberian lemak hewani tertentu akan memberikan asam lemak tidak jenuh (PUFA = Poly-unsaturated fatty acids), sehingga ditinjau dari sudut kesehatan lebih menguntungkan.
PVP dan SVP dapat menyerap lemak atau minyak tiga perempat sampai setengah kali beratnya. Kemampuan ini sangat penting artinya menyangkut proses peningkatan cita rasa, rupa dan sifat tekstur dagingnya. Daging sintesis murni disamping dapat dimanfaatkan untuk mengisi produk berdaging, juga bisa dibuat beefsteak sintetis, casing (sarung sosis), sitentis, opor, rendang, dendeng, bakso. Rasanya sulit dibedakan dengan daging asli jika membuatnya dilakukan dengan sempurna.
Yang amat melegakan adalah bahwa protein kedelai ini (yang digunakan sebagai bahan baku daging sintetis) menurut hasil penelitian kekurangan asam amino metionin, sebaliknya banyak mengandung lisin. Keduanya merupakan asam amino esensial, artinya tidak dapat dibuat oleh tubuh. Tubuh harus mendapatkannya dari makanan supaya dapat menggantikan bagian tubuh yang telah rusak atau aus. Dengan demikian daging sintetis mempunyai nilai lebih yang tak bisa dipungkiri dibanding daging asli.